Idul Adha – Hidup Bukan Untuk Diri Sendiri

0
14

Penulis: Iqbaluddin Huzaini Ketua Bidang Keagamaan PKC PMII Bali Nusra Tenggara

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

Umat Islam di Indonesia menyambut dengan riang gembira hari raya Idul Adha yang mulia dengan takbir, tahlil, dan tahmid sebagai ungkapan rasa syukur. Jutaan umat Islam di tanah suci Makkah madinah sedang khusu’ menunaikan ibadah haji. Dari berbagai bangsa, suku, sosial, ekonomi, pendidikan dan usia berserah diri dan bermunajat kepada Allah SWT sambil mengumandangkan kalimat talbiyah :

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ.

“Kami penuhi panggilan-Mu wahai Allah, wahai Allah kami datang memenuhi seruan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan karunia hanyalah milik-Mu, milik-Mu segala kekuasaan dan kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu”.
Ummat islam dianjurkan untuk berkurban, berbagi daging kurban dengan sesama, berbagi kebahagian kepada untuk orang lain. Hal ini mengajarkan kita bahwa hidup bukan untuk diri sendiri tanpa harus memandang jabatan, status sosial, latar belakang pendidikan, suku, ras dan kelas ekonomi. Ibadah kurban memberikan pesan kepada umat Islam tentang pentingnya menyembelih ego pribadi untuk kebermanfaatan kepada sesama serta empati terhadap orang lain.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a. bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW: “Ajaran Islam apakah yang baik?” Nabi SAW menjawab :

تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ (رواه البخاري ومسلم)

“Memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis di atas menegaskan tidak hanya masalah ibadah saja yang diajarkan Islam, tetapi masalah-masalah kehidupan sosial pun menjadi sorotan. Selain itu umat Islam juga harus memperhatikan masyarakat di sekitarnya diantaranya menyantuni orang-orang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan mereka yang membutuhkan.
Hal ini bukan hanya urusan pemerintah, namun kesadaran diri sendiri untuk membantu sesama muslim dan manusia pada umumnya.

Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya tentang amalan Islam yang paling baik, beliau langsung menjawab memberikan bantuan dan mengucapkan salam bagi orang yang dikenal maupun tidak dikenal. Hal tersebut menjadi manifestasi kepada Allah SWT diakhirat kelak.

Didalam ajaran Islam bahwa rezeki yang berkah adalah rezeki yang cukup untuk diri sendiri dan orang lain, bukan rezeki yang banyak dan berlimpah tetapi tidak berkah. Rezeki yang melimpah dan dimanifestasikan kejalan Allah akan membantu terbukanya pintu surga Allah SWT. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Nabi SAW bersabda :

طَعَامُ الِاثْنَيْنِ كَافِي الثَّلاَثَةِ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةِ كَافِي الأَرْبَعَةِ (رواه البخاري ومسلم)

Makanan satu orang cukup untuk dua orang, dan makanan dua orang cukup untuk empat orang. (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang muslim yang senantiasa menginfakkan sebagian rezekinya pada orang-orang yang membutuhkan, akan merasa cukup dengan segala karunia Allah kepadanya. Meskipun rezekinya tidak banyak, tetapi itu dirasakan sebagai suatu kecukupan yang tetap ia syukuri. Hatinya selalu tentram dan hidupnya pun nyaman. Dengan kedermawanannya, banyak orang yang bersimpati kepadanya, dan berdoa untuk kebaikan orang tersebut dalam segala kehidupannya. Inilah yang dimaksud dengan keberkahan.

Dalam hal memperoleh rezeki, umat Islam diarahkan agar meraih keberkahan dari rezeki tersebut, bukan meraih banyak jumlahnya. Karena harta yang banyak dan berlimpah kalau tidak disertai keberkahan akan menjadi sia-sia dan bahkan akan menjerumuskan orang tersebut dalam perilaku yang tercela.

Berbeda halnya dengan orang yang kikir, tidak memiliki rasa empati terhadap sesama, meskipun hartanya banyak dan berlimpah ruah, tetapi ia merasa hal itu masih kurang dan tidak cukup baginya. Sehingga ia merasa berat untuk mengeluarkan sebagian rezekinya pada mereka yang membutuhkan. Hidupnya selalu dikejar-kejar oleh nafsu duniawi, seolah-olah ia ingin mencengkeram seisi dunia ini dengan jari-jari tangannya. Akibatnya, ia hidup dengan prinsip semua orang harus melayaninya bukan aku yang harus melayani mereka. Sikap demikian inilah yang membuat hidupnya tidak barakah dan tidak pernah merasa cukup atas rezeki yang ia dapatkan.

Alangkah hebatnya ajaran Islam yang memandang semua umatnya adalah bersaudara yang harus saling membantu dan menolong antara satu dengan yang lain. Bahkan, lebih jauh lagi, Islam melalui sabda Rasulullah SAW memandang bahwa iman seseorang tidak sempurna sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواه البخاري ومسلم)

“Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah, ajaran Islam yang paripurna dan senantiasa relevan untuk diamalkan umat manusia sampai akhir masa, demi mencapai kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Bangsa yang berkeadaban adalah umat yang selalu memperhatikan nasib masyarakat sekitarnya. Mereka dapat hidup tenang dan damai, jika masyarakatnya berkecukupan. Sebaliknya mereka merasa gundah dan gelisah, jika masyarakatnya hidup susah dan akan cendrung kepada jurang kekufuran.

Hal ini digambarkan Nabi SAW sebagaimana hadis dari Nu’man bin Basyir :

تَرَى المُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، كَمَثَلِ الجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالحُمَّى (رواه البخاري ومسلم)

“Kamu melihat kaum mukminin dalam hal sayang menyayangi, cinta mencintai, dan kasih mengasihi, bagaikan satu tubuh, jika ada salah satu anggota tubuh yang mengeluh (sakit), maka anggota-anggota tubuh lainnya ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan merasa demam”. (HR.  Bukhari dan Muslim).

Maka dari itu, mulailah berinfaq dengan hal-hal kecil, koin contohnya yang nominalnya kecil dan diremehkan akan bermanfaat jika dishodaqohkan. Belajar dari Lembaga sosial Coin Foundation yang tugasnya mengumpulkan koin-koin mampu membeasiswakan 11 anak yatim, menangani orang-orang sakit, mendirikan yayasan pondok pesantren dan lembaga pendidikan taman kanak-kanak. Selain itu juga membantu korban bencana alam aceh, palu, lombok, hingga pulau sumbawa. Hal tersebut mengajarkan kita untuk “hidup bukan untuk diri sendiri”.

Leave a reply