Obat Vaksin Limit, Dewan Tagih Janji Pusat

0
5

Program percepatan vaksinasi di Lombok Barat terancam tak capai target hingga pertengahan Oktober yang tinggal hitungan hari. Kondisi dosis vaksin yang masih limit, kini praktis terhenti dan dikeluhkan banyak terutama di kalangan desa. Padahal

sebagai wilayah penyangga dalam mendukung perhelatan WSBK target 70 persen tuntas dan selesai terlaksana.

Ketua DPRD Lombok Barat Hj. Nurhidayah menyayangkan persediaan stok vaksin yang kehabisan. Padahal langkah percepatan vaksinasi dengan program serbu vaksin oleh Pemkab Lobar bersama TNI Polri sudah gencar dilakukan. Untuk itu, dirinya tegas meminta janji Pusat agar obat vaksin segera didistribusikan.

“Bayangin dalam sepekan terakhir kita sudah lakukan. Kita Lobar setelah Lombok Tengah. Sudah kita sosialisasikan ketingkat desa hingga dusun dan semua kompak melaksanakan itu. Lagi kita terbentur

stok vaksin,” sesalnya.

Masalah ini bukan kita di Pemkab pokoknya. Namun semua keputusannya ada pada Pusat yang seharusnya tetap prioritaskan kebutuhan obat vaksin. Kalau Pemkab cukup sigap menangani percepatan

vaksinasi. Jika sekarang terus limit dan tak pasti kesediannya, praktis target 70 persen yan dipercayike Lobar terancam tak bisa terlampau. Terlebih vaksinasi ini sebagai penunjang jalannya WSBK.

“Saya minta, agar Pemprov prioritaskan Lobar jika obat vaksin vaksin sudah dikirim Pusat. Makanya kita sudah di inanji, ya kita tagih lagi janji mereka untuk segera,” tegasnya.

Harus difahami, Lobar ini kan sebagai pintu masuk kedatangan untuk official hingga penonton event Internasional ini, jadi harus diprioritas. Meski bukan tuan rumah, tetapi sebagai penyangga WSBK juga.

“Lobar ini sebagai Kabupaten penunjang dan bertetangga langsung dengan Lombok Tengah. Sehingga Target 70 persen juga harus kita penuhui,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Desa Beleke Islahudin mengatakan, mengenai pelaksanaan vaksinasi warganya baru satu tahap dikarenakan obat vaksin yang sangat terbatas. Pihaknya meminta jatah 2.000 dosis ke Dikes dengan membagi dua titik. Namun hanya diperuntukkan 1.200 dosis.
“Ini yang menjadi masalah, disatu sisi kami dikebut untuk lakukan vaksin tapi kenyataan stok obat vaksin habis dan tak ada lagi,” kesal dia.

Ia berharap agar vaksinasi selanjutnya, desa diberikan sesuai kebutuhan warga yang belum mendapat jatah vaksin, sehingga program vaksinasi ini bisa cepat tuntas terlaksana. Dengan begitu, desa tidak lagi disibukkan dengan vaksinasi. Jika ini sudah selesai, sehingga bisa mengerjakan program lainnya.

“Kami berharap, pemerintah benar-benar siap. Jangan kita dibawah diperintah dengan maksimal tetapi persediaan stok obat vaksin sangat minim. Terlebih setelah kita sudah siap segalanya sosialisasi dan merayu warga akhirnya kandas dan banyak tak terlayani,” ungkap dia.

Kita bingung, dilematis dengan banyak warga karena mereka tak bisa terlayani untuk divaksin.

“Gebrakan kami sudah ideal dengan menggelar door prize. Ini semua untuk bisa memantik daya tarik agar mereka mau melaksanakan vaksin. Giliran kita sudah berbuat banyak, malah tak bisa menjamin pemenuhan program vaksinasi ini,” pungkasnya. (Ik)

Leave a reply