Rumput Kering Wisata Lombok Barat

0
10

Oleh: M. Tajudin

Kepala Desa Taman Ayu

Desa Wisata atau Wisata Desa?

Persamaan Desa Wisata dengan Sepak Bola adalah dalam memanfaatkan potensi yang sudah ada sebagai kekuatan dan kekayaan. Setiap club sepak bola professional, selalu memiliki akademi. Di akademi inilah tempat menempa bibit bibit pemain bola profesional untuk dipromosikan ke tim senior, atau di Jual ke Club lain dengan harga yang fantastis..

Dalam konteks desa wisata, pemanfaatan segala potensi yang dimiliki suatu desa dan kemudian dikemas serta disajikan untuk menjadi satu paket wisata, serta keterlibatan semua unsur di desa merupakan salah satu tujuan utama desa wisata.

Adapun wisata desa merupakan suatu objek wisata yang kebetulan dimiliki suatu desa entah itu wisata alam wisata buatan maupun wisata rohani akan tetapi dalam konteks wisata desa keterlibatan masyarakat sangat dibatasi dan hanya dilakukan dilakukan oleh beberapa orang saja

Setelah memahami perbedaan Desa wisata dan wisata desa, maka dimanakah posisi desa desa se-Lombok barat ingin di bangun? Tentu jawabannya adalah Desa Wisata.

Menjaga Sustainable dan Jebakan Pragmatisme

Perkembangan Desa wisata di Lombok Barat akhir akhir ini semakin menggeliat. Dalam berbagai moment disajikan kekayaan kekayaan Desa sebagai “menu jualan” pariwisata. Media-media menyambut kegiatan dengan berbagai narasi yang membangkitkan gairah. Sebergairah itukah wisata kita? Apakah ini tidak muncul sementara lalu lenyap entah kemana?

Salah satu penyakit kepariwisataan kita adalah sikap pragmatis dalam membangun Desa Wisata. Pragmatisme dalam bahasa sederhananya adalah upaya untuk mencapai tujuan dengan cara yang lebih cepat. Tetapi pengertian yang lebih kasar adalah pencapaian tujuan dengan segala cara. Pemahaman yang belakangan ini juga terlihat dalam pola pembangunan wisata di desa-desa sehingga banyak desa yang sebelumnya telah berinvestasi luar biasa dalam membangun wisata hanya terlihat sebentar dan bahkan ada yang seumur jagung kemudian tenggelam.

Terjebaknya desa-desa membangun wisata dalam lingkup pragmatisme ini yang kemudian menjadikan ritme kontinuitas atau sustainable tidak terjaga. Wisata bukan untuk membuat bangunan baru atau mengganti ornamen kuno dengan ornamen baru yang hambar dan tidak tahan lama tapi lebih pada memberikan penyadaran yang lebih inheren pada kekayaan kekayaan alam dan sumber daya manusia untuk dikembangkan sesuai dengan ciri khas Desa masing-masing, sehingga sustainable produk wisata bisa dijamin dan akan bertahan lama

Dalam konteks Desa Wisata, Keterlibatan masyarakat secara umum dan sudah diketahui secara umum dan dilakukan sebagai aktifitas sehari-hari, itulah jualan wisata masing-masing desa yang sesungguhnya. sehingga desa-desa tidak perlu Terlalu boros dalam investasi infrastuktur kepariwisataan namun mengabaikan pembangunan maindset masyarakat secara keseluruhan. Desa Wisata itu sesederhana menyiram rumput kering yang kemudian diharapkan beberapa hari lagi akan muncul hijau kembali. Maka butuh proses yang evolutif.

Taman Ayu dan Fenomena Desa Wisata

Desa yang lahir sejak Tahun 1898 ini memiliki rentetan sejarah kepemerintahan yang luar biasa. Saat itu Desa Taman Ayu bernama Desa Gunung Malang yang lahir dari SK Gubernur Jendral No 19 Tanggal 17 Agustus 1898 dan Stat Blat Nomor : 248. Lalu di Tahun 1958 di bergabung dengan Desa Penarukan dan pada tahun 1960 berubah nama menjadi Kebon Ayu hingga pada tanggal 2 Nopember Tahun 2011 dimekarkan lagi dari Desa Kebon Ayu Menjadi Desa Taman Ayu.

Sebagai Desa yang kaya akan Seni Budaya, Desa Taman Ayu memiliki berbagai jenis Kesenian serta adat budaya yang terus dilestarikan secara turun temurun. beberapa kesenian yang masih ada hingga saat ini adalah Gamelan, gendang bleq, wayang, tenun, cupak gerantang, seni baca hikayat (Pemaosan), Kesenian tatah wayang, Tari Baris dan seni music tiup genggong.

Ada juga Kekayaan Budaya yang dilestarikan hingga saat ini. Perayaan Selametan Kandang, Selametan Pelabuhan, Mulut Bale Adat sampai Festival rengginang masih tetap dilaksanakan (kecuali saat pandemi).

Secara Geografis, Taman Ayu merupakan Desa unik, Desa yang diapit oleh dua Muara Sungai Besar di Pulau Lombok, yaitu Muara Sungai Babak di sebelah Utara dan Muara Sungai Dodokan di Sebelah Selatan. Sedangkan disebelah timur terbentang gunung yang menjulang dan sebelah Barat adalah Laut.

Kekayaan Alam dan Budaya ini tentu menjadi destinasi yang “menjual” secara Kepariwisataan.

Wayang yang hampir punah

Dari beberapa kesenian yang ada, ada pula kesenian yang hampir punah. Hal itu dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah dalam pengembangan seni budaya di Desa ini. Pemerintah Desa Taman Ayu melalui pokdarwis mendorong beberapa jenis kesenian yang hampir punah ini menjadi prioritas garapan. Kesenian dijadikan sebagai ruh Desa wisata. Salah satu konsentrasi dari pembangunan dan pelestarian seni budaya di desa Taman Ayu adalah kesenian tatah wayang yang saat ini hanya dilakukan oleh Amaq Darwilis.

Sebenarnya, kegiatan tatah wayang ini telah dilirik oleh banyak negara-negara luar seperti belanda, Australi, Amerika dan lain-lain, Bahkan hasil tatahan wayang Amaq Darwilis sudah masuk Museum Nasional. Melihat perkembangan seni tatah wayang di desa Taman Ayu kurang begitu diperhatikan maka pemerintah Desa Taman Ayu Berencana untuk mengembangkan Kesenian tatah wayang dengan membangun komunitas seni yang konsentrasinya melestarikan budaya pewayangan tidak hanya dalam hal seni tatah wayang tapi juga dalang dan Gamelan pengiring nya.

Wayang yang berada dibawah sanggar seni Sunan sejati ini merupakan wayang idealis. Dilakoni dengan tetap memperhatikan Pakem yang sudah ada. Terlihat lebih idealis karena dalam menyampaikan pesan-pesan cerita dilakukan secara utuh, sedikit sekali sponsor (Kekojaq dalam bahasa Sasak) . Hal ini tentu menjadi sesuatu yang harus didiskusikan lebih lanjut agar para penikmat wayang tidak hanya dari kalangan yang mengerti bahasa wayang tapi juga kepada kaum milenial (dengan tanpa merubah pakem) sehingga pesan moral dari cerita pewayangan bisa di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Perhatian terhadap seni tatah wayang ini diharapkan tidak hanya dari Pemerintah Desa, tapi juga seluruh stakeholder. Jika Lombok Barat tidak ingin kehilangan kekayaan yang hampir punah ini.

Leave a reply